Semangat pagi

Live is about a choice, depend on the frame of mind we choose

Pemulung Kaya Raya Juni 16, 2007

Filed under: Renungan — muliaarif @ 2:59 pm

Pernah denger pemulung yang kaya raya? Belum? Sumpe lu? Wanna be one? Pemulung itu biasanya ngumpulin barang sedikit-sedikit lalu setelah terkumpul dikelompokkan sesuai jenisnya, baru deh dibarter. Nah, kalau mo jadi yang kaya raya bisa jadi caranya hampir sama… binun yak, iya, aku ya iya juga sama binun-nya. Oke deh, biar mudah gini ajah. Gimana kalau kita mulai dengan mulungin ilmu di setiap kejadian kehidupan kita, karena ternyata tidak satu kejadian pun yang terjadi karena kebetulan semata.

Aku dunk beruntung, kenal seseorang  yang meskipun umurnya masih muda, tapi ilmunya dalem. Wuih, kalau ngomong ama dia, kadang seperti ngomong ama orang yang jauuuuh lebih tua dari umurnya alias nenek-nenek, untungnya bandel, jadi nggak kayak nenek-nenek yang dah tua banget gitu (bisa bonyok neh kalau kebaca ama dia). Dia membantu aku mengenalkan kembali ilmu yang paling dasar, yang harus menjadi akar.

Waktu itu, karena cinta dunianya terlalu tebel dan kentel, aku sampai pada titik jenuh. Semua mulai berasa hambar dan kelihatan blur. Pelan tapi pasti, semua mulai berwarna sama. Meskipun hidup pas-pasan, aku masih bisalah makan dan tidur di tempat yang sederhana. Kehidupan di luar rumah juga nggak buruk-buruk amat. Kepengen kaya banget juga nggak, berarti nggak ada beban. So, seharusnya nggak ada masalah kan? Tapi ya itu tadi, karena nggak mulungin ilmu setiap hari, akhirnya hidup yang didapat hanya kuantitas saja, kualitasnya gak ngikut. Mending kalau nambah muda setiap harinya, hiks!

Ilmu sang Khalik bertebaran di mana-mana, tinggal kita aja yang mau mulungin atau nggak. Bisa jalan kaki setiap hari saja, kalau tau ilmu bersyukur, bisa jadi kita sangat berterima kasih sama yang ngasih kaki yang sehat. Membaca, mengetik, makan, minum, berbicara, mendengar, dst, dst, dst kalau tau betapa kompleks susunan syaraf pada tubuh kita dan kita boleh make, gratis lagi seharusnya kita pasti akan banyak-banyak terima kasih ama yang ngasih kemampuan itu. Lalu sampai di mana kita dah mulungin ilmu setiap harinya? Apakah harus kena sakit kepala yang dashyat dulu baru berterima kasih atas kepala yang setiap hari nyaman? Atau malah nunggu yang lebih parah lagi, baru tobat. Ikh… seyeeem….

So, which one? Pemulung yang kaya atau pemulung yang miskin?

MA, Jkt 10 June 2007, 7.45PM,  stuck and release!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s