•Februari 27, 2008 •
& Komentar
Motivasi serapan dari bahasa latin, matere: bergerak. Kalo bahasa linggisnya: Motivation, motive dan action, tindakan yang dilakukan karena adanya motif.
Biar singkat kita langsung mbahas tipe motivasi yang terbagi 3;
1. Motivasi untuk keberlangsungan hidup.
Mendorong untuk memenuhi segala kebutuhan pokok, makan, minum, udara, dkk.
2. Motivasi external.
Motivasi yang kita dapatkan dari luar diri sendiri. Seminar, teman, buku, atasan. Namun sayangnya motivasi ini gampang ‘ngilang’ tertiup angin. Tahu kenapa? Karena datangnya dari luar, kalo ‘dengung’nya nggak terdengar lagi, motivasinya juga pelan-pelan ikut nggak ‘kedengeran’. Ini menjawab pertanyaanku, kenapa ya, setelah ikut pelatihan pengembangan diri, aku ‘tobat’nya hanya sebentar saja, nggak continue gitu… ehem…
3. Motivasi Internal
Motivasi inilah yang paling kuat pengaruhnya buat diri sendiri, karena datang dari diri sendiri, secara sadar penuh untuk memenuhi pencapaian yang diinginkan.
Singkat tapi lumayan membuka cakrawala baru. Semoga bisa memilih motivasi yang tepat agar istiqomah. Aamin. Tetap semangat!
MA, Jkt 27 February 2008, 17.30, go girl go!
Ditulis dalam Naik Tangga
•Februari 26, 2008 •
& Komentar
Pagi ini kusempatkan menelusuri halaman buku yang sedang kucemil. Ada bait kalimat yang begitu menggerakkan, tulisannya begini: Jika seseorang menutup satu pintumu, ingatlah bahwa Allah pasti membuka pintu yang lain.
Kusematkan kuat-kuat dalam hati, tancap di chip memory-ku, semoga bisa menjadi bahan bakar untuk terus termotivasi agar tidak pernah mentok. There is always other way. Tetap Semangat!
MA, Jkt 26 February 2008, 07.33, Cloudy morning, high spirit but!
Ditulis dalam Semangat Pagi
•Februari 22, 2008 •
& Komentar
English mode: On. This lovely friday, I would like to share something, food for though. It says: “We first make our habits, then our habits make us”. Make sure to read it carefully, as this is simple statement, catchy one but require faith to embed it to our heart. It sounds so naif if I say: lets make good habit, but I have no other words then that naif mode.
Well, If this is going to make us better person, why don’t we just do it.
MA, Jkt 22 February 2008, 17.27, Just do it, will you!
Ditulis dalam Naik Tangga
•Februari 21, 2008 •
& Komentar
Hari ini aku coba menyatukan dua topik dari buku yang lagi aku ‘cemil’. Masih buku yang sama tapi nanti kita lihat seberapa bisa aku mencoba menggunakan bahasa dan pemahaman aku tentang dua topik ini.
Bahwa jika kita memahami seseorang, kita bisa “memisahkan” tindakan dan niatnya agar terhindar dari kekecewaan. Dzig, homework abis! Butuh keluasan hati, mata kedua yang siaga. Ya sudah, aku tidak akan membahas ini lebih lanjut, karena memang kita tinggal merenung bentar ntar juga dapet link-nya ke sejarah hidup kita, lalu klik!
Bahwa orang-orang melakukan hal-hal terbaik sebatas sumber-sumber yang mereka miliki juga sebenarnya bukanlah rule baru. Tidak jarang kita tersenyum sendiri jika mengingat kejadian masa lalu dan merasa bodoh telah melakukannya. Ternyata kata pak Dr. Elfiky, itu terjadi karena pada saat kejadian tersebut itulah pengetahuan dan sumber-sumber terbaik yang kita miliki. Ini juga sangat mendukung semangat bahwa ilmu memang harus terus bertumbuh…
Segini dulu, yang penting tetap semangat dan tetap mencoba untuk selalu ‘mengikat’ makna dari yang sudah dipelajari dengan menuliskannya. Syukur-syukur bisa ‘make it stick’. Aamiin.
Tetap semangat!
MA, Jkt 21 February 2008, 17.25 PM, Ikatlah makna dari detik ke detik berikutnya…
Ditulis dalam Naik Tangga
•Februari 20, 2008 •
& Komentar
Peta bukanlah wilayah, demikian perumpamaan Alfred Corzibski, ahli matematika Polandia. Peta adalah persepsi, wilayah adalah hidup kita. Bahwa persepsi tidak sama dengan kenyataan, sering banget terjadi dengan kehidupan kita sehari-hari. Kalau kita kepentok masalah hanya ada dua cara melihatnya; masalah = bencana atau masalah = tantangan/cobaan. Kelihaian kita memilihlah yang pada akhirnya menentukan akhir cerita dari kisah tersebut. Tidak jarang kalau dihadapkan dengan masalah, rasanya kitalah yang menjadi orang paling malang di dunia ini… Ada satu cerita, seorang ibu sedang menunggu kereta api untuk pulang ke kampung halamannya. Namun karena ada keperluan yang sangat penting, Ibu tersebut keluar dari stasiun kereta dan berniat kembali secepatnya, sebelum kereta api berangkat. Namun, setibanya di stasiun, kereta api tersebut sudah berangkat. Ibu tersebut sangat amat marah. Dia menuju petugas kereta api sambil memaki-maki karena kereta api diberangkatkan lebih cepat dari jadwal.
Keesokan harinya, Ibu tersebut kembali lagi ke stasiun kereta api dan mendengar berita bahwa kereta api yang seharusnya ditumpanginya kemarin mengalami kecelakaan, sehingga banyak penumpang yang meninggal dunia. Ibu itu tersentak, “seandainya aku ikut kereta kemarin, mungkin aku menjadi salah satu korbannya”
Viuuuh, peta memang bukanlah wilayah. Semoga saja kita termasuk orang-orang yang tidak pernah berhenti mengaplikasian “teknik” ini di kehidupan sehari-hari, sehingga kita bisa lebih fokus untuk menyelesaikan hal-hal yang lebih penting. Siip, pasti bisa kalau usaha dan kemauan yang dashyat. Mari mulai dari sendiri dan mulai hari ini. Tetap semangat!
Source: Dr. Ibrahim Elfiky, Terapi NLP…
MA, Jkt 20 February 2008, 17.29, sound familiar?
Ditulis dalam Naik Tangga
Komentar Terakhir