Menghormati cara orang lain membentuk dunianya adalah pekerjaan susah, susah, susah, gampang. Secara teori kita paham benar bahwa setiap orang dibesarkan dilingkungan yang berbeda, sehingga membawa nilai dan kepercayaan yang melatarbelakangi tingkah lakunya. Tidak jarang kita begitu getol untuk mengubah seseorang sesuai dengan ‘kacamata’ nilai dan kepercayaan yang kita miliki sehingga bisa sepaham, tapi syukurnya, lebih sering gagal daripada berhasil… he…he…
Ada cerita yang bisa jadi referensi: ” Ketika saya masih muda, bebas berimajinasi, saya bermimpi mengubah dunia. Semakin tua dan bijaksana, ternyata saya temukan dunia tidak berubah, sehingga saya pun menyederhanakannya untuk mengubah negeri. Namun ternyata negeri saya tidak berubah, dan usia makin bertambah. Akhirnya usaha terakhir saya adalah berupaya untuk merubah keluarga, orang-orang terdekat, dan idem ditto, nggak ada yang berubah.
Sekarang saya terbaring sekarat di ranjang kematian, tiba-tiba saya menyadari: bahwa yang seharunya pertama kali saya lakukan adalah mengubah diri sendiri, kemudian memberi tauladan sehingga bisa mengubah keluarga. Dorongan dan inspirasi mereka memungkinkan saya untuk memperbaiki negeri, dan siapa tahu, saya mungkin bisa mengubah dunia.” — Anonim —
Sudah waktunya untuk bisa “berbaur” dengan “suku” yang berbeda, yuk, merenung bentar….
Source: Dr Ibrahim Elfiky, Terapi NLP….
MA, Jkt 19 February 2008, 16.48 PM, ……
Komentar Terakhir