Defenisi soulmate menurut wikipedia yang dengan terjemahan bebasnya mungkin seperti ini: istilah yang dipakai untuk seseorang yang punya ‘kesamaan’, kesamaan perasaan/emosi yang paling dalam, persahabatan, cinta/kasih sayang, saling pengertian yang kuat, kalau boleh saya summarize mungkin sering disebut-sebut orang sebagai unconditional love dengan frekuensi ‘non radio transmitted’ yang bisa ‘dipertanggungjawabkan’.
Menentukan siapa soulmate kita bisa jadi seperti mengisi puzzle. Even bagi orang yang sudah mempunyai pasangan hidup, bisa jadi mereka menunggu waktu yang lama untuk akhirnya ‘ngeh’ kalau pasangan hidupnya adalah soulmate-nya. Syukur-syukur kalau nggak cerai, dijamin pasti nggak pernah tahu! He…he….
Punya lebih dari satu soulmate itu berkah – bukan berarti selingkuh, karena soulmate bisa jadi saudara, teman, kerabat. Kenapa berkah? Karena belum tentu ada orang yang mau dan bisa memposisikan dirinya untuk memberikan ‘unconditional love’ untuk kita. Bukan apa-apa, ini dijamin nggak ringan. Nerima seseorang ‘apa adanya’ dan tidak berharap apapun darinya, hiks! Aku cuman bisa bilang, wow! Belum lagi kalau ternyata kita ini orang yang super kepala batu dan nggak mau ngalah, udah kebayang ceritanya pasti tidak ringan! Mungkin kalau pada level ‘pamrih’, bisa jadi si pemberi tadi akan ngeset agar ususnya lebih panjang alias lebih sabar, ntar kalo dah dapet baru deh ‘diformat ulang’, wah itu namanya apes, sabar bersyarat, hiks!
Kalau diamati, banyak pasangan, saudara, teman yang sudah get along untuk waktu yang lama, tapi tidak masuk dalam kategori ini. Padahal sebenarnya bisa terlihat ‘unspoken love’ nya dalam interaksi sehari-hari bahkan pada saat harus berselisih paham, tetap saja terlihat ‘kasih sayang’ di dalamnya. Gimana tidak, keduanya pasti akan merasa sangat tidak nyaman dalam kondisi konflik, karena frekuensi yang saling tarik-menarik untuk berkomunikasi.
Aku bersyukur masih bisa melihat living example, sepasang suami istri yang sudah berumur 70an, sudah bercicit malah. Meskipun tidak tergolong romantis, malah lebih banyak waktunya menyelesaikan konflik internal, tapi tetap saja terlihat betapa mereka saling mencintai. Mencintai tanpa kata-kata… mereka berbicara dengan frekuensi hati yang paling khusus, bertukar kasih sayang setiap saat, layaknya sedang sinkronisasi data di komputer… Mereka lebih banyak memperkaya hatinya dengan kasih sayang sehingga mengakar kuat, yang dengan sendirinya akan membersihkan ‘sampah-sampah’ yang numpuk karena khilaf!
Hmm, unconditional love, non radio transmitted frequency… ya itu soulmate! Akhirnya aku bisa juga mendefinisikannya…. fiuh….
MA, Jkt 21 August 2007, 16.49, Soulmate, hmm hmm, are you there?
Komentar Terakhir