Semangat pagi

Live is about a choice, depend on the frame of mind we choose

Just in case Agustus 24, 2007

Filed under: Puisi — muliaarif @ 1:06 am

Rabb, begitu banyak yang harus kupinta padaMu
Namun mengapa tak jua terucap
Hati ini tak menengadah bermohon
Tumpul seperti pisau, teronggok berkarat

Rabb, begitu aku membutuhkanMu
Di setiap langkah, setiap nafas
Namun mengapa hanya tanda tanya yang tersisa
Hampa seolah tak bernyawa

Rabb, kalaupun aku tak pantas bermaqam
Namun ijinkanlah, sedikiiit saja
Mengintip rahasia hidup ini
Biar aku tahu, ujung perjalananku yang sebenarnya

MA, Jkt 23 August 2007, 19.34, Hope I am ready when the time comes.

 

Aku adalah… Agustus 23, 2007

Filed under: Renungan — muliaarif @ 10:36 am

Aku adalah kala aku sedang dijatah cerita hidup yang tidak aku inginkan, akan terlihat aku yang sebenarnya. Aku yang tidak bisa berpura-pura. Aku yang ternyata nggak ada apa-apanya. Aku yang tidak berdaya. Aku yang malah mungkin memilih menghindar dari rasa ketidaknyamanan yang terus mengejar di sudut hati. Aku ternyata jiwa yang lemah, yang tidak berdaya… kelas kacangan. Cemen!

Aku adalah manusia yang sedang dilanda khawatir, jangan-jangan menghadapi kematian nanti aku malah lebih cemen, naudzubillah….

Jadi aku adalah manusia yang sedang bersedia dan sadar ‘melunta-luntakan’ perasaannya, menunggu matahari terbit dari sudut hatinya untuk menyinari lekukan-lekukan hati yang sedang temaran sinarnya…

Kalau aku mau sukses dunia sini dan ‘dunia sana’, aku harus lebih keras berusaha menggapai ultimate goal yang sudah aku ‘setujui’ sewaktu masih berumur 40 hari di kandungan bunda.

Aku memang bukan siapa-siapa karena aku adalah kosong, nol, tidak ada!

MA, Jkt 23 August 2007, 17.31, Rabb, I need that ‘intimacy’ so badly!

 

Soulmate Agustus 21, 2007

Filed under: Renungan — muliaarif @ 9:53 am

Defenisi soulmate menurut wikipedia yang dengan terjemahan bebasnya mungkin seperti ini: istilah yang dipakai untuk seseorang yang punya ‘kesamaan’, kesamaan perasaan/emosi yang paling dalam, persahabatan, cinta/kasih sayang, saling pengertian yang kuat, kalau boleh saya summarize mungkin sering disebut-sebut orang sebagai unconditional love dengan frekuensi ‘non radio transmitted’ yang bisa ‘dipertanggungjawabkan’.

Menentukan siapa soulmate kita bisa jadi seperti mengisi puzzle. Even bagi orang yang sudah mempunyai pasangan hidup, bisa jadi mereka menunggu waktu yang lama untuk akhirnya ‘ngeh’ kalau pasangan hidupnya adalah soulmate-nya. Syukur-syukur kalau nggak cerai, dijamin pasti nggak pernah tahu! He…he….

Punya lebih dari satu soulmate itu berkah – bukan berarti selingkuh, karena soulmate bisa jadi saudara, teman, kerabat. Kenapa berkah? Karena belum tentu ada orang yang mau dan bisa memposisikan dirinya untuk memberikan ‘unconditional love’ untuk kita. Bukan apa-apa, ini dijamin nggak ringan. Nerima seseorang ‘apa adanya’ dan tidak berharap apapun darinya, hiks! Aku cuman bisa bilang, wow! Belum lagi kalau ternyata kita ini orang yang super kepala batu dan nggak mau ngalah, udah kebayang ceritanya pasti tidak ringan! Mungkin kalau pada level ‘pamrih’, bisa jadi si pemberi tadi akan ngeset agar ususnya lebih panjang alias lebih sabar, ntar kalo dah dapet baru deh ‘diformat ulang’, wah itu namanya apes, sabar bersyarat, hiks!

Kalau diamati, banyak pasangan, saudara, teman yang sudah get along untuk waktu yang lama, tapi tidak masuk dalam kategori ini. Padahal sebenarnya bisa terlihat ‘unspoken love’ nya dalam interaksi sehari-hari bahkan pada saat harus berselisih paham, tetap saja terlihat ‘kasih sayang’ di dalamnya. Gimana tidak, keduanya pasti akan merasa sangat tidak nyaman dalam kondisi konflik, karena frekuensi yang saling tarik-menarik untuk berkomunikasi.

Aku bersyukur masih bisa melihat living example, sepasang suami istri yang sudah berumur 70an, sudah bercicit malah. Meskipun tidak tergolong romantis, malah lebih banyak waktunya menyelesaikan konflik internal, tapi tetap saja terlihat betapa mereka saling mencintai. Mencintai tanpa kata-kata… mereka berbicara dengan frekuensi hati yang paling khusus, bertukar kasih sayang setiap saat, layaknya sedang sinkronisasi data di komputer… Mereka lebih banyak memperkaya hatinya dengan kasih sayang sehingga mengakar kuat, yang dengan sendirinya akan membersihkan ‘sampah-sampah’ yang numpuk karena khilaf!

Hmm, unconditional love, non radio transmitted frequency… ya itu soulmate! Akhirnya aku bisa juga mendefinisikannya…. fiuh….

MA, Jkt 21 August 2007, 16.49, Soulmate, hmm hmm, are you there?

 

I can even love you without any reasons! Agustus 17, 2007

Filed under: Renungan — muliaarif @ 3:29 am

17 Agustus 2007, hari ini, hari kemerdekaan bangsaku. Bangsaku yang begitu tegar menerjang badai. Betapa tidak, bencana dan peristiwa apalagi yang belum sempat mampir ke Indonesia, semua sudah komplit. Negara yang kata Koesplus, begitu subur dan sejahtera, tanah surga, terpuruk karena masih lebih banyak “jiwa-jiwa” yang belum merdeka dari keinginan duniawi yang lebih dominan.

Negaraku Indonesia, dengan segala kelebihan dan kekurangannya yang punya chemistri misteri yang tak terjelaskan. Jika menengok keluar, kita sedikit ketinggalan… ilmu, disiplin, konsistensi, penghargaan atas karya orang lain, dan masih banyak yang sering kita gampangkan…

But let me tell you something, Indonesia tetap saja selalu punya tempat khusus di dada warga negaranya. Indonesia punya daya tarik yang tidak ada di tempat manapun di muka bumi ini, Indonesia selalu saja istimewa. Why? Karena Indonesia selalu saja menjadi bangsa yang paling tabah dan paling kuat menghadapi badai, seberat apapun itu. Indonesia merdeka hanya dengan menggunakan bambu runcing dan boneknya, tapi itulah yang selalu istimewa. Mmm, Indonesia, aku bangga jadi salah satu anak bangsa, I can even love you without any reasons!

MA, Mks 17 August 2007, 11.00 AM, Saat ini, tepat detik-detik proklamasi…

 

Ternyata, sama-sama gak tau malu Agustus 14, 2007

Filed under: Renungan — muliaarif @ 5:57 am

Malam ini, on the way home, taksi yang kutumpangi berhenti cukup lama karena lampu merah. Mataku menelusuri bangunan sepanjang jalan, tertangkap di sudut mataku kejadian yang tidak asing di kota besar seperti Jakarta ini, namun setiap aku melihat kejadian yang sama, aku merasa aneh aja. Seorang laki-laki kurus berpakaian layaknya wanita, rok mini, yang super mini malah menari sambil mengangkat kakinya tinggi-tinggi, berulang-ulang untuk mengundang kelucuan. Penonton di sekitarnya semua tertawa, aku dari kejauhan tersenyum pahit sambil menahan hatiku yang miris. Begitu kerasnya kah hidup sampai-sampai ada yang mau melakoni hidupnya seperti badut, menjadi orang lain dengan menggunakan ‘topeng’ agar tetap survive. Sampai-sampai dia harus ‘meninggalkan’ setumpuk rasa malu di rumah sebelum mencari nafkah. Wuih, kalo dibanding dengan ‘mbak-mbak an’ dengan rok mini itu, aku ‘dibagi rejeki’ masih diizinkan untuk tidak menggadaikan rasa malu… Tapi sayangnya yang sering ‘ketinggalan’ di rumah adalah rasa syukur dengan segala keringanan mendapat rejeki.

Sekarang jadi mikir, kalau aku begini terus, nggak ada bedanya dunk dengan ninggalin rasa malu di rumah, karena toh kasusnya sama saja, ‘tidak tahu malu’, satu gak mau malu karena tau yang dikerjain memang memalukan, kalo yang satunya lagi gak tau malu karena selalu lupa bersyukur…. Tragis!

MA, Jkt 13 August 2007, 21.25, Say it, Alhamdulillah…

 

Alert! Agustus 14, 2007

Filed under: Renungan — muliaarif @ 5:56 am

Lucu juga, kalo ngikutin seri film komedi, judulnya “my name is Earl”. Earl sangat percaya bahwa karma adalah nyata. Earl punya daftar semua kesalahan2 masa lalunya, mencopet, mencuri, membohongi pacarnya. Semua dikembalikan kembali ke korbannya dan Earl berusaha menebus semua kesalahannya, sampai-sampai dia berkorban untuk tidak makan karena tidak punya uang lagi, itu juga karena dia harus mengembalikan semua uang yang dimilikinya kepada orang yang lebih berhak menurutnya.

Di jaman seperti sekarang ini, Earl mungkin contoh yang ‘aneh’, gimana nggak, sudah hidup mapan dan nyaman, koq mau-maunya kembali melarat karena merasa tidak berhak menggunakan hak orang lain. Dia begitu percaya pada karma, semua hal yang buruk yang dilakukannya maka akan kembali padanya, kapan? masalah waktu saja. Meskipun gak boleh percaya karma, semoga sudut di dada kita selalu tertanam rasa nggak enak, alert, warning, jika ada yang melenceng dari rambu-rambu. Semoga selalu ada…. amiin.

MA, Sydney, 8 August 2007, 20.15, What a silent nite….

 

Bocor Halus Agustus 6, 2007

Filed under: Renungan — muliaarif @ 2:55 am

Terkadang kita begitu bangga jika dikatakan pinter. Hiks! Bisa jadi malah karena merasa pinter banget sampai semua harus make otak, biar tambah kelihatan pinter… he…he…

Beberapa hari ini aku mengamati orang-orang dari lingkungan yang agak berbeda dari keseharianku, mereka begitu tekun dan dedicated dengan pekerjaan mereka. Untuk social life, mereka selalu meluangkan waktu dalam agenda mereka. Seimbanglah work hard, play hard!

Entahlah, diantara hidup mereka yang begitu “rapi” dan “teratur” dan jauh dari hidup yang impulsive, aku ngerasa ada yang hilang, ada benang merah…

Apakah otak pinter merupakan jaminan hidup? Kalo jiwanya ‘bolong’ pelan-pelan tapi pasti akan membolongi ‘otak’ yang pada awalnya akan ‘bocor halus’ dan lama kelamaan akan bener-bener bocor dan bolong besar. Iih syeyeeem…. Mudah-mudahan aku nggak bocor kedua-duanya, otak nggak bisa diandalin berbarengan dengan jiwa yang bolong pula, waduh… gak beda dunk ama zombie. Naudzubillah…

MA, Sydney, 06 August 2007, 10.15 AM, Winter, now its sunny day!

 

Dimana-mana sama aja ternyata Agustus 3, 2007

Filed under: Renungan — muliaarif @ 3:12 am

Kirain kalo lagi nggak berpijak di atas bumi pertiwi, aku akan ‘behave’ better, ternyata sama saja, malah sekarang jadi tahu, kalo “pola”nya udah kayak gini, yo tetep aja sama… Ternyata harus ke luar dulu dari duniaku yang sekarang yang ternyata sangat sempit untuk bener-bener yakin, kalau masih begitu banyak yang harus ditambal. Kirain pola-ku dah lumayan baik, ternyata nggak beda… sami mawon…masih minus nus nus…

Lemah, gak berdaya, gak bisa berdiri sendiri, gak bisa hanya ngandalin diri sendiri dan begitu banyak hal lainnya yang pop up satu persatu di kepalaku. Only one choice, mau berubah atau tetep saja seperti ini. Masak iya seh aku nggak belajar juga?

MA, St.Leonard, Sydney, 3 August 2007, 14.05 PM , light rain, cold…brrr….

 

Bahasaku yang pas-pasan Agustus 3, 2007

Filed under: Renungan — muliaarif @ 3:03 am

Tadi subuh, masih di angkasa raya, gelap gulita, pramugara pesawat mengumumkan program donasi untuk anak-anak kurang beruntung. Programnya seh gak masalah, malah patut dicontoh, tapi yang aku rada gak mudeng waktu pramugaranya bilang “you can collect donation from phone coins that you want to get rid off” Wow, kata “get rid off” ini yang menantang. Gimana nggak, gampangnya kan, kalo punya duit receh yang dah gak dipake lagi mbok disumbangkan saja. Secara harfiah seh memang iya ya, kalo sudah tidak berguna kenapa disimpan. Tapi apakah yang disumbangkan itu hanya yang ‘gak layak’ kita punyai lagi?

Waks, aku jadi mikir, pasti karena bahasa inggrisku saja yang masih katro sampai gak paham maksud sebenarnya….

MA, Sydney, 30 July 2007, 19.00 PM, Beautiful moonlight at harbour bridge…

 

Kaos Kaki Bolong Agustus 2, 2007

Filed under: Renungan — muliaarif @ 7:01 am

Kalau kita kebetulan lagi make kaos kaki dan ternyata bolong, waktu harus nyopot sepatu depan orang banyak, biasanya kita akan coba menyembunyikannya. Mungkin seperti itu pula kalau aib kita begitu banyak, sedemikian rupa kita berusaha menyembunyikannya agar tidak terlihat dan tidak ketahuan orang banyak. Tapi ternyata pada saat kita lengah, tidak waspada, kita bisa saja memperlihatkan aib kita tanpa sengaja.

Sama persis dengan kaos kaki bolong punya kita, kita coba nutupin sekuat daya upaya kita. Padahal ternyata kaos kaki bolong stok kita masih begitu banyak di lemari pakaian, tapi tidak kita sadari. Lalu siapa yang nutupin aib yang kita jaga dan tidak kita jaga? Dia-lah yang Maha Rahiim. Tanpa kita minta, Dia sudah menutupinya untuk kita agar kita tidak malu berjalan di muka bumi ini. Tapi sayangnya, kita lebih sering lupa daripada ingat untuk berterima kasih. Malah masih petantang petenteng nepuk dada, merasa begitu suci dan mulia. Ugh, manusia… kamu bisa apa sih? Suplai oksegenmu distop barang beberapa menit saja, pasti sudah lewat, the end, seperti sebuah film yang berakhir.

Mudah-mudahan Allah yang tidak pernah pamrih akan kasih sayangNya senantiasa menitipkan hidayah di dada kita, agar kita bisa lebih tahu diri, hidup dan berjalan di muka bumi ini. Mbok tahu diri dikitlah…

MA, Cengkareng, 29 July 2007, 17.45 PM, Blank Spot!

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.