Semangat pagi

Live is about a choice, depend on the frame of mind we choose

Nothing you can do about it! Juli 27, 2007

Filed under: Renungan — muliaarif @ 1:33 am

Duh Gusti, ternyata untuk naik kelas itu tidak mudah. Kalau dalam kondisi sehat lahir bathin, mungkin matahari yang bersinar terik – terlihat terang benderang, tapi kalau lagi nggak, seterik apapun matahari, sinarnya tetap aja suram…

Bisa jadi selama ini aku memang rabun jauh, beranggapan bahwa apapun yang terjadi memang hanya tentang hari ini. Padahal, keesokan harinya, seminggu kemudian atau malah bertahun-tahun kemudian, semuanya bisa tersingkap dengan segala rahasianya. Butuh kesabaran yang gigih dan kejelian ”mata kedua” untuk melihat.

Mmm, padahal kalo mo ’nrimo’ mungkin akan jauh lebih baik, buat kesehatan lahir bathin, karena apapun yang TELAH terjadi – Nothing You Can Do About It untuk merubahnya. Sudah ada yang Maha Cermat, Maha Pengatur, Maha Tahu apa yang paling baik untuk ’kurikulum’ kita lebih dinamis, supaya bisa naik kelas sesuai kualitasnya.

Ya Allah, tumpahkan di dada ini kesejukan seperti sejuknya air yang jatuh dari pancuran cintaMu. Lapangkan dada ini, seperti padang kasihMu yang sangat luas tak berbatas. Kuatkan kedua tangan ini agar kuat bergantung di tali ridhoMu. Ijinkanlah hati ini pasrah total akan segala kuasaMu. Karena jika Engkau jauh dariku, aku amat sangat sengsara, tak berarah, tersesat. Kabulkan ya Allah…

MA, Jkt, 27 July 2007, 19.05 PM, A long and winding road….

 

Bunda… Juli 20, 2007

Filed under: Puisi — muliaarif @ 10:33 am

Bundaku sayang, aku dengar engkau sakit
Kali ini sangat serius
Kali ini aku juga merasa lebih sakit
Kali ini terasa sangat lain

Bunda, aku mungkin belum pernah berterima kasih dengan benar
Atas waktu dan tenagamu membesarkan aku
Doa-doamu yang luar biasa
Semangat yang engkau titipkan di dada ini

Bunda, beberapa minggu ini terasa begitu berat
Itu karena aku sayang sama bunda
Karena aku ingin bunda tetap tersenyum
Untuk waktu yang lama…

Bunda, aku ingin berada di sana, di dekatmu
Membelai rambutmu dikala engkau sedih,
Menguatkanmu dikala engkau lemah,
Menelusuri wajah tuamu dengan pandangan cinta

Bunda, sakitmu adalah dukaku
Dalam, tersayat, sakit di dadaku
Bunda, semoga aku bisa memaafkan diriku sendiri
Karena engkau belum menerima balas jasa dariku

Bunda, tetaplah tersenyum untuk aku
Tetaplah jadi matahariku yang terbit di pagi hari
Api semangat yang membara di dadaku
Tetaplah menunggu ketika aku pulang ke rumah…

MA, Jkt 20 July 2007, 05.29 PM, I love you mum!

 

Ayah, maafkan aku Juli 12, 2007

Filed under: Puisi — muliaarif @ 9:59 am

Ayah, maafkan aku
Gurat keriput di wajahmu, tanda juangmu
Mengumpulkan rupiah demi rupiah
Untuk nasi yang kumakan setiap hari

Ayah, maafkan aku
Tubuh rentamu, tanda tenaga yang terkuras
Mengumpulkan harap demi harap
Agar aku anakmu bisa hidup layak

Ayah, maafkan aku
Aku lebih sering lupa daripada ingat untuk menyapamu
Aku lebih sering merasa lebih hebat darimu
Aku lebih sering melukaimu daripada menyenangkanmu

Ayah, maafkan aku
Kalau aku merasa tidak bisa mengerti jalan pikirmu
Kalau aku merasa engkau terlalu berhati-hati
Kalau aku merasa engkau terlalu tua untuk didengarkan

Ayah, maafkan aku
Apapun itu, akulah yang sombong
Akulah yang tidak tahu terima kasih
Akulah yang tidak peduli

Ayah, maafkan aku
Aku mencintaimu dengan cara yang aneh
Aku menghormatimu dengan cara yang tidak biasa
Aku mengagumimu tanpa kata-kata

MA, Jkt, 12 July 2007, 16.54 PM, The truth will shine!

 

Giliranku, it’s a matter of time! Juli 12, 2007

Filed under: Renungan — muliaarif @ 9:39 am

Taufik Savalas, aku tidak pernah mengenal dia secara dekat, hanya lewat TV saja. Dengan segala kelucuannya yang segar, menghibur. Hari ini, lewat radio aku mendengar berita kematiannya. Terhenyak kaget, another good man left. Meskipun tidak pernah kenal dekat, tapi aku kehilangan. Seorang panutan bagi banyak orang, termasuk aku yang selama ini begitu jauh dari ‘bumi’, gak napak. Taufik Savalas dengan segala kerendahan hatinya, menunjukkan bahwa orang tidak perlu “show off” bahwa ‘punya’ dan ‘mampu’.

Live is about a choise, depend on the frame of mind we choose. Taufik sudah memilih hidup yang bersahaja, hidup yang mulia. Dia begitu ringan tangan membantu orang lain. Begitu ketulusan terlihat dari gesture tubuh dan sinar matanya…. Subhanallah.

So long Mas Taufik, semoga kita bertemu di sana nanti, tepat berada di barisan Nabi junjungan kita Muhammad SAW. Hanya Allah saja yang paling tahu yang terbaik, begitupun sisa usia yang terbaik buat kita, is a matter of time, suatu saat, bila sudah tiba waktunya nanti, orang juga akan mengucapkan ini untuk aku, Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun….

MA, Jkt 12 July 2007, 14.11 PM, Today is Learning day….

 

Jika aku besar nanti Juli 7, 2007

Filed under: Puisi — muliaarif @ 12:37 am

Kelak jika aku besar nanti,
Aku akan menjadi orang yang hebat
Menjadi kebanggaan keluarga
Menjadi pijar dalam gelap

Kelak jika aku besar nanti,
Aku akan menjadi orang yang berguna
Menjadi terkenal,
Menjadi….

Tapi lihat, aku sudah besar sekarang!
Apa yang aku impikan sewaktu kecilku
Hanya mimpi yang tersangkut di langit

Kelak jika aku tua nanti,
Aku menjadi lebih sabar
Aku menjadi lebih syukur
Aku menjadi lebih bijaksana

Kelak jika aku mati nanti,
Orang tersenyum menghantar kematianku
Karena mereka sudah menangis haru sewaktu aku lahir
Saatnya mereka tersenyum, menghantarku jelang kehidupan yang hakiki…

MA,  Jkt, 7 July 2007, 06.00 AM, Silent morning…

 

Aku adalah debu Juli 7, 2007

Filed under: Puisi — muliaarif @ 12:36 am

Aku adalah debu,
Debu yang sangat kecil, setitik!
Harus bersahabat dengan angin
Karena tak kuasa menahannya…

Aku adalah debu,
Yang sulit terlihat
Debu yang sangat kecil, hanya setitik!
Tidak lebih, tidak kurang

Kalau aku hanya debu,
Mengapa sombongku lebih besar dari setitik?
Mengapa baikku lebih kecil dari setitik?
Sejuta mengapa  yang terbawa angin jawabnya…

Aku hanya debu setitik,
Tidak lebih, tidak kurang
Yang terbang terbawa angin tanpa bisa menolak
Lalu mengapa aku masih meng-Aku kan diriku?

Aku hanya debu setitik,
Diterbangkan angin kesana kemari tak berdaya
Aku hanya debu, debu setitik
Tidak lebih, tidak kurang…

MA,  Jkt, 7 July 2007, 05.45 AM, Silent morning…

 

Nak… Juli 6, 2007

Filed under: Puisi — muliaarif @ 1:25 am

Nak, sewaktu kau lahir…
Kami berharap engkau jadi cahaya cinta di hati kami,
Lentera buat agama,
Asset luar biasa buat negara

Nak, engkau semakin besar
Kami tetap berharap engkau tidak berubah,
Tetap seperti harap kami,
Tetap seperti program-program yang kami rencanakan…

Nak, engkau sekarang telah dewasa
Waktu telah merubahmu…
Kau telah merubah harap orang-tuamu
Kau telah menjadi sosok yang berbeda

Nak, takutlah pada Penciptamu
Walaupun kami tidak lagi menjadi cintamu
Nak, hidupmu hanya babak dalam sandiwara
Pasti akan ada akhirnya…

Nak, buka mata dan hatimu
Biarkan cinta Penciptamu merasuk di dadamu
Agar cinta itu berbisik lirih di telinga hatimu
Agar kau tahu, kau harus bagaimana…

MA, Jkt 5 July 2007, 05.49 AM, Who am I?

 

Aku kangen… Juli 3, 2007

Filed under: Renungan — muliaarif @ 10:04 am

Pagi ini indaaah sekali… Kicau burung yang setia setiap pagi berkicau, terdengar lebih merdu dan begitu juga suara gemercik air, jauuuh lebih merdu. Angin mendesir, berbisik mesra sembari menyapa kulitku… hmm syahdu.

Ternyata, jika aku merasakan kedekatan itu, semua yang biasa menjadi luar biasa, semua jadi lebih indah, lebih jelas, tidak ada mendung yang menutupi.

Aku kangen dengan yang menciptakan rasa ini… Subhanallah.

MA, Jkt 15 June 2007, 5.45 AM… What a lovely morning!

 

I love you, but not that much! Juli 3, 2007

Filed under: Renungan — muliaarif @ 6:34 am

Perhatikan, amati sekali lagi. Berapa besar porsi kita menghabiskan waktu untuk urusan dunia. Begitu sibuk dan sibuk. Yang lebih mengenaskan lagi kalau pura-pura sibuk! Wah, komplit deh sandiwaranya.

Sekarang, perhatikan, amati lagi. Ada gak yang tertinggal? Kalau ada, lalu apa? Bisa dijelaskan? Ternyata banyak sekali. Padahal kita sudah mencoba membuat rencana yang kudu diniatin. Tapi… jujur, tetap saja, porsi dunia dan atributnya lebih kental.

Bisa nggak ya, suatu saat nanti, kita bilang ama dunia dan isinya, I love you but not that much! Kenapa, karena kalau ada cinta di hati yang porsinya lebih tinggi daripada cinta kepada Sang Khalik, maka apapun yang kita usahakan bisa jadi merupakan keniscayaan belaka. Naudzubillah…

Mari belajar yuk, kita bilang ama dunia ini, I love you, but not that much!

MA, Jkt 3 July 2007, 1.30 PM, Love day neh?

 

Jika Cinta… Juli 3, 2007

Filed under: Puisi — muliaarif @ 12:59 am

Jika cinta diijinkan melihat,
Dia akan melihat, menembus relung hati
Dia akan menyusuri relung hati, sudut demi sudut
Dia akan melihat yang tak terkatakan, tak terbantahkan….
 
Jika cinta diijinkan bicara,
Dia akan berbisik ke hati yang paling dalam
Dia akan bercerita suasana yang indah
Dia akan bersaksi dengan penuh kejujuran…

Jika cinta diijinkan melihat dan berbicara
Maka dia akan cerita,
Betapa indahnya dia dengan warna-warninya
Beribu betapa yang tak terkira dan tak terkatakan…

Ijinkanlah cinta untuk melihat
Ijinkanlah cinta untuk berbicara
Hingga hati tidak buta, tidak luka
Karena cinta itu indah…

Jangan khawatir,
Cinta akan membawa ke jalan yang engkau harapkan
Cinta akan menuntun ke rasa yang engkau rindukan
Bukalah hati untuk cinta dan biarkan cinta mencari frekuensinya sendiri…

Jika cinta diijinkan…..

MA, Jkt 3 July 2007, 07.50 AM, Cinta? Yuuk……

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.