Semangat pagi

Live is about a choice, depend on the frame of mind we choose

Babak Dalam Hidup Juni 30, 2007

Filed under: Renungan — muliaarif @ 12:51 am

Merasa begitu sepi dalam ramai. Hmm, apakah aku kehilangan ceriaku? Pemikiran-pemikiran positifku? Di mana aku ketika matahari terbit? Lalu di mana aku kala matahari terbenam? Ternyata aku nggak kemana-mana. Aku tetap duduk di atas kursi tua yang begitu setia melewati siang dan malam dengan tetap di tempatnya.

Sore tadi aku melewati jalan raya yang mulai macet, dengan wajah-wajah tidak ramah dari orang-orang di jalanan, entah apa yang ada di benak mereka. Aku juga melewati jalan rumah seseorang yang pernah sangat dalam tertancap di chip memoriku, dan mungkin masih. Memang, itu dulu, tapi kalau melihat lingkungannya yang tidak berubah, aku jadi punya pikiran nakal untuk mampir, he…he…

Hmm, malam ini ramai, tapi aku merasa begitu sendiri dalam kungkungan pikiranku. Semoga aku selalu ingat berada dan menapak di mana, supaya aku tahu dan sadar, bahwa hidup itu adalah episode berbabak, entahlah aku berada di babak yang mana, tapi aku selalu berharap, jika babak yang aku lewati sudah selesai, aku bisa kembali ke haribaan Ilahi yang tersenyum menyambutku. Semoga…

MA, Mks, 22 August 2005, 08.37 PM – old files

 

Tetap Semangat! Juni 30, 2007

Filed under: Renungan — muliaarif @ 12:50 am

Sambil nunggu waktunya pesawat take off, aku tergoda bertemu teman lama. Akhirnya kami sepakat bertemu. Sambil muter-muter kota, di sepanjang perjalanan beliau bercerita tentang anak yang dibanggakannya. Sebagai seorang remaja, kelihatannya anak itu memang bisa dijadikan role model untuk remaja seusianya. Pinter, alim dan patuh pada orang tua. Hmm…

Kalau dirunut ke belakang, memang sangat memungkinkan anak itu terbentuk seperti sekarang ini, karena ayahnya adalah seorang “true warrior”, tidak pernah melempem, semangat 45-nya tidak pernah padam, di tengah semua kesibukannya. “Harus yakin!” begitu katanya. Ya, melakukan apapun harus yakin. Yakin akan berhasil, yakin akan selesai, yakin kita bisa dan yakin bahwa hanya melakukan yang terbaik! “Nah, yakin ini harus datang dari hati yang paling dalam” tambahnya.

Waks, aku jadi mikir neh, selama ini berapa banyak pekerjaan, kegiatan yang keyakinanku lebih sering tertinggal dari pada ngikut. Yang pasti ngikut itu adalah fisik. Memprihatinkan sekali ya….

 Jadi malu…

MA, Selaparang, 28 June 2007, mid day, a long one!

 

Di Luar Lingkaran Juni 25, 2007

Filed under: Renungan — muliaarif @ 10:02 am

Kalau kita lihat peristiwa di sekitar kita, begitu banyak yang terjadi dan begitu cepat berganti, hitam putih, kecil besar, kuat lemah, baik buruk, bla bla bla…

Begitu juga dengan perubahan drastis dari manusia. Perubahan itu bisa membuat kita turut senang atau malah kesal. Gak percaya? Kalau ada public figure yang diberitakan sebagai figure yang religius, humble, pokoknya menyenangkan dan bisa jadi panutan, tiba-tiba berubah 180 derajat alias ngeselin dan tidak sesuai keinginan kita lagi, apalagi dengan bumbu-bumbu gossip dari media, bikin kita makin empet aja ngeliatnya. Malah kadang, ikut-ikutan ngedumel, kayak kita tau aja apa yang sebenarnya terjadi.

Padahal neh, kalau kita mau nyoba membuat satu lingkaran untuk memberi batasan pada kejadian tersebut dan kita melihat dari apa yang sebenarnya terjadi di luar lingkaran itu, bisa jadi kita akan lebih wise menyikapinya. Kita jadinya gak ikut-ikutan jadi orang yang mudah kena hasut. Ya iyalah, gimana nggak, apapun yang terjadi, sudah ada yang mengatur dengan cermat, sang Maha Pengatur, pasti benar tidak pernah salah, Maha Sempurna. Intinya, kita neh sebagai manusia, bisa aja bikin agenda atau skenario sempurna untuk apapun, tapi yang paling pasti dan tidak terbantahkan adalah Sang Pengatur-lah yang meng”endorse” atau malah ”overwrite” dengan skenario yang lainnya. Setuju gak setuju, itulah yang berlaku, dan tidak akan pernah berubah sampai kapanpun.

Jadi, sudah siapkah kita melihat setiap kejadian di luar lingkaran?

MA, Jkt 25 June 2007, 06.15 AM, Silent Morning…

 

Pemulung Kaya Raya Juni 16, 2007

Filed under: Renungan — muliaarif @ 2:59 pm

Pernah denger pemulung yang kaya raya? Belum? Sumpe lu? Wanna be one? Pemulung itu biasanya ngumpulin barang sedikit-sedikit lalu setelah terkumpul dikelompokkan sesuai jenisnya, baru deh dibarter. Nah, kalau mo jadi yang kaya raya bisa jadi caranya hampir sama… binun yak, iya, aku ya iya juga sama binun-nya. Oke deh, biar mudah gini ajah. Gimana kalau kita mulai dengan mulungin ilmu di setiap kejadian kehidupan kita, karena ternyata tidak satu kejadian pun yang terjadi karena kebetulan semata.

Aku dunk beruntung, kenal seseorang  yang meskipun umurnya masih muda, tapi ilmunya dalem. Wuih, kalau ngomong ama dia, kadang seperti ngomong ama orang yang jauuuuh lebih tua dari umurnya alias nenek-nenek, untungnya bandel, jadi nggak kayak nenek-nenek yang dah tua banget gitu (bisa bonyok neh kalau kebaca ama dia). Dia membantu aku mengenalkan kembali ilmu yang paling dasar, yang harus menjadi akar.

Waktu itu, karena cinta dunianya terlalu tebel dan kentel, aku sampai pada titik jenuh. Semua mulai berasa hambar dan kelihatan blur. Pelan tapi pasti, semua mulai berwarna sama. Meskipun hidup pas-pasan, aku masih bisalah makan dan tidur di tempat yang sederhana. Kehidupan di luar rumah juga nggak buruk-buruk amat. Kepengen kaya banget juga nggak, berarti nggak ada beban. So, seharusnya nggak ada masalah kan? Tapi ya itu tadi, karena nggak mulungin ilmu setiap hari, akhirnya hidup yang didapat hanya kuantitas saja, kualitasnya gak ngikut. Mending kalau nambah muda setiap harinya, hiks!

Ilmu sang Khalik bertebaran di mana-mana, tinggal kita aja yang mau mulungin atau nggak. Bisa jalan kaki setiap hari saja, kalau tau ilmu bersyukur, bisa jadi kita sangat berterima kasih sama yang ngasih kaki yang sehat. Membaca, mengetik, makan, minum, berbicara, mendengar, dst, dst, dst kalau tau betapa kompleks susunan syaraf pada tubuh kita dan kita boleh make, gratis lagi seharusnya kita pasti akan banyak-banyak terima kasih ama yang ngasih kemampuan itu. Lalu sampai di mana kita dah mulungin ilmu setiap harinya? Apakah harus kena sakit kepala yang dashyat dulu baru berterima kasih atas kepala yang setiap hari nyaman? Atau malah nunggu yang lebih parah lagi, baru tobat. Ikh… seyeeem….

So, which one? Pemulung yang kaya atau pemulung yang miskin?

MA, Jkt 10 June 2007, 7.45PM,  stuck and release!

 

Tom dan Jerry Juni 16, 2007

Filed under: Renungan — muliaarif @ 2:41 pm

Kalau denger Tom and Jerry, pasti kenal kan. Kucing dan tikus yang nggak pernah akur alias selalu mencoba mencari cara untuk saling mencelakakan. Nah, tadi tuh ceritanya, si kucing Tom nerima paket yang isinya buku.

Setelah membuka paketnya, Tom mulai membaca halaman per halaman dari buku yang ternyata ditulis oleh si tikus Jerry tentang cerita hidupnya dengan Tom (Diary). Membaca halaman pertama dia langsung teringat betapa bodohnya dia dipermainkan oleh si Jerry dan keponakannya yang masih pakai pampers. Klimaksnya ketika semua bulu si Tom terbakar! Sambil menahan marah Tom melanjutkan membaca halaman berikutnya. Baru saja mau mulai membaca, dia mendengar suara si Spike dan anaknya (bulldog yang galak banget dan sering nyiksa si Tom) tertawa terbahak-bahak membaca diary tersebut. Marah yang tadinya di level satu, meningkat menjadi level dua. Nah, karena penasaran, Tom membuka halaman berikutnya, tapi kali ini dia mendengar suara tertawa yang lebih keras! Itulah yang mengantar Tom ke puncak amarahnya, entahlah sekarang ada di level berapa… Dengan amarah yang membuncah, dia menuju rumah si Jerry. Didobraknya pintu dan tembok rumah si Jerry. And here we go, Jerry tertangkap ama si Tom. “It’s time for revenge” kata si Tom. Tapi sebelum dilumat, Jerry menunjukkan secarik kertas yang sejak tadi dipegangnya. Dia meminta Tom untuk membacanya. Isinya seperti berikut: “Dear Jerry, ini cek sebesar $25,000 yang engkau minta diberikan untuk Tom atas penerbitan diary kalian”

Setelah membacanya dan menerima cek dari Jerry, Tom langsung berubah sikap 180 derajat. Dengan sigap dia mengambil diary yang tadi dibanting lalu membacanya, tapi kali ini sambil tertawa. Ya, menertawakan dirinya sendirinya.

Meskipun ini cerita kartun, toh bukan hal baru dalam hidup. Terkadang kita bisa begitu benci atau marah akan sesuatu secara berlarut-larut. Namun setelah tahu “rahasia” di baliknya, bisa jadi kita menertawakan diri sendiri karena kita terlalu cemen. Mudah-mudahan kita tidak tertawa karena tuntutan uang seperti si Tom, kita tertawa, karena kita bahagia mendapat pencerahan baru. Subhanallah…

MA, Jkt 16 June 2007, 9.28PM, I love cartoon!

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.